F Sapardi Djoko Damono | membuat blog secara instant

Sapardi Djoko Damono

Posted by do it your self Jumat, 07 September 2012 0 komentar

Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair, budyawan, guru besar ilmu susastra, dan pujangga Indonesia terkemuka. Dia dikenal sebagai penyair dengan berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana dan bernas sehingga beberapa di antaranya sangat populer. Penyair yang juga guru besar Universitas Indonesia ini dilahirkan di Surakarta, Jawa tengah, 20 Maret 1940, sebagai anak pertama dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Tempat tinggal orang tua Sapardi Djoko Damono berada di kampung Ngadijayan, tempat tinggal Pangeran Hadiwijaya, seorang Pangeran dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan sangat berdekatan dengan kampung para sastrawan besar lainnya, seperti W.S. Rendra, B. Sutiman, Bakdi Soemanto, dan Sugiarta Sriwibawa. Namun, semasa anak-anak mereka tidak saling mengenal satu sama lain walaupun jarak rumah mereka kurang lebih hanya 500 meter.
Sapardi bersekolah di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) Kraton “Kasatriyan” tempat bergaul dirinya dengan para putra pangeran Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sementara itu, di rumah Sapardi menikmati kehidupan sebagai anak kampung dengan menghabiskan masa kecilnya bermain benthik, gobaksodor, dhelikan, jamuran, cari belut di sawah-sawah, main jailangkung, adu jangkrik, main kelereng, main layang-layang, dan bal-balan di gang sempit atau di Alun-alun Selatan Surakarta. Suasana perjuangan revolusi fisik yang berlangsung hingga tahun 1949, yang kadang-kadang (bahkan sering) terdengar rentetan senjata api, pemboman oleh pesawat terbang Belanda, dan dar-dor di malam hari oleh pejuang kita, seperti tidak mempengaruhi keasyikan bermain masa kanak-kanak Sapardi.
Selain bermain dengan berbagai permainan masa kanak-kanak yang khas pada waktu itu, Sapardi juga suka mengunjungi beberapa persewaan buku yang semasa itu banyak terdapat di kotanya. Melalui tempat persewaan buku itu Sapardi mulai mengenal dunia rekaan yang diotulis oleh Karl May, Sutomo Djauhar Arifin, William Saroyan, Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, J.E. Tatengkeng, Amir Hamzah, Mochtar Libis, dan lainnya. Sapardi juga menyenangi komik yang ketika itu banyak diciptakan R.A. Kosasih. Bahkan, bersama adiknya Sapardi pernah “mengusahakan” persewaan komik bagi anak-anak di kampung halamannya. Masa kanak-kanak yang menyenangkan dirasakan Sapardi begitu lama sekali dan tidak akan pernah selesai.
Masa anak-anak dan masa muda remaja Sapardi dihabiskan di Surakarta. Setelah lulus dari SD Kraton Kasatriyan (1952), dia melanjutkan ke SMP Negeri 2 Surakarta (lulus tahun 1955) dan SMA Negeri 2 Surakarta (lulus tahun 1958). Namun, semasa duduk di bangku kelas dua SMA (1957) mendadak rumah warisan keluarganya dijual dan keluarganya pindah ke pinggir kota di sebelah utara, di sebuah desa yang pada waktu itu belum ada listrik dan suasana desanya diwarnai dengan rumpun bambu, kicau burung, bunga sepatu, air kali, dan bedhidhing kalau musim kamarau tiba. Pada masa itu dia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah dan surat kabar nasional. Sajak pertama yang ditulis Sapardi dimuat di ruangan kebudayaan Pos Minggu, Semarang, pada tahun 1957. Sejak itu, sajak-sajak Sapardi kemudian muncul di ruangan kebudayaan berbagai majalah dan surat kabar nasional dan daerah, seperti Merdeka (Jakarta), Mimbar Indonesia (Jakarta), Konfrontrasi (Jakarta), Budaya (Yogyakarta), Indonesia (Jakarta), Basis (Yogyakarta), Budaya Jaya (Jakarta), Gelora (Surabaya), Sastra (Jakarta), Kompas (Jakarta), dan Horison (Jakarta).
Kesukaannya menulis berkembang saat dia menempuh kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selama menjadi mahasiswa, Sapardi terlibat berbagai kegiatan kesenian, seperti main musik, main drama, siaran sastra di radio, menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, membaca puisi, dan diskusi sastra. Setelah lulus dari UGM Sapardi cepat-cepat menikah dengan Wardiningsih, adik kelasnya, dan bekerja sebagai dosen di IKIP Malang Cabang Madiun (1964—1968), beberapa perguruan tinggi di Solo, dan pindah ke Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang (1969—1974). Pada akhir tahun 1960-an Sapardi sempat belajar ilmu dasar humaniora di Hawaii, Amerika Serikat. Sejak tahun 1974 dia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun sebagai guru besar. Sapardi pernah menjadi pembantu dekan, naik menjabat dekan, dan ketua program pascasarjana di FIB-UI, serta menjadi guru besar ilmu susastra. Sapardi juga pernah menjadi redaktur pada majalah sastra Horison (1974—1993), redaktur majalah Basis (Yogyakarta), membantu majalah Kalam (Jakarta), country editor untuk Tenggara (jurnal sastra Asia Tenggara yang terbit di Kuala Lumpur, Malaysia), dan correspondent untuk Indonesia Circle (jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh School of Oriental and African Studies, University of London. Sapardi bersama Subagio Sastrowardojo, Umar Kayam, Goenawan Mohamad, dan John H. McGlynn mendirikan Yayasan Lontar yang terutama bergerak di bidang penerbitan terjemahan sastra Indonesia dalam bahasa Inggris. Bersama rekan-rekannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Sapardi juga mendirikan Yayasan Puisi dan menerbitkan jurnal Puisi. Selama tiga periode (1987—1997) Sapardi Djoko Damono duduk sebagai Ketua Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI).
Karya-karya Sapardi Djoko Damono telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Sampai sekarang telah ada delapan lebih kumpulan puisinya yang diterbitkan. Dia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola. Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti “Aku Ingin” (sering kali dituliskan bait pertama sebagai undangan perkawinan), “Hujan Bulan Juni”, “Pada Suatu Hari Nanti”, “Akulah si Telaga”, dan “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari”. Kepopuleran puisi-puisi Sapardi itu sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya Sapardi. 
Berikut adalah karya-karya Sapardi Djoko Damono, baik berupa kumpulan puisi, beberapa esei, kumpulan cerpen, terjemahan, maupun buku karya ilmiah lainnya, antara lain: (1) Duka-Mu Abadi (Bandung, 1969, cetak ulang oleh Pustaka Jaya, 1975), (2) Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway), (3) Mata Pisau (Yayasan Puisi Indonesia, 1974), (4) Akuarium (Yayasan Puisi Indonesia, 1974; keduanya kemuian diterbitkan ulang menjadi Mata Pisau oleh Balai Pustaka, 1982), (5) Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis), (6) Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan), (7) Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan), (8) Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978, Pusat Bahasa), (9) Novel Indonesia Sebelum Perang (1979, Pusat Bahasa), (10) Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya), (11) Perahu Kertas (1983, Balai Pustaka), (12) Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1983, Gramedia), (13) Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia), (14) Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn), (15) Suddenly The Night: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn, Yayasan Lontar), (16) Afrika yang Resah (1988; terjemahan), (17) Bilang Begini, Maksudnya Begitu (1990), (18) Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks, Yayasan Obor), (19) Hujan Bulan Juni (1994, Grasindo), (20) Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling), (21) Arloji (1998), (22) Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999, Pustaka Firdaus), (23) Sihir Rendra: Permainan Makna (1999, Pustaka Firdaus), (24) Ayat-ayat Api (2000, Pustaka Firdaus), (25) Priyayi Abangan (2000, Bentang Budaya), (26) Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen), (27) Mata Jendela (2002), (28) Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002), (29) Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen), (30) Nona Koelit Koetjing: Antologi Cerita Pendek Indonesia Periode Awal: 1870—1910 (2005; salah seorang tim penyusun), (31) Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantra tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia), dan (32) Kolam (2009; kumpulan puisi). Masih banyak karya Sapardi Djoko Damono yang lain belum kami catat dalam laporan penelitian ini.
Sapardi juga menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia. Musikalisasi puisi karya Sapardi dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Agus Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari Soundtrack film “Cinta dalam Sepotong Roti" (1991) garapan Garin Nugroho, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Beberapa tahun kemudian lahirlah album Hujan Bulan Juni (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Album Hujan Dalam Komposisi menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama. Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album Gadis Kecil (2006) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album Becoming Dew (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu. Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata Ars Amatoria yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi Sapardi serta karya beberapa penyair lain.
Pada tahun 1986, tiga buah esai dan sejumlah sajak Sapardi diterjemahkan dan diterbitkan di Jepang sebagai salah satu penerbitan sastra dunia. Sajak-sajak yang lainnya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Perancis, Urdu, Hindi, Jerman, dan Arab. Sejak tahun 1970 Sapardi sering diundang seminar dan membaca puisi di luar negeri di beberapa negara, seperti di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia. Atas karyanya di bidang tulis-menulis itu Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan, antara lain (1) Cultural Award (1978) dari Australia, (2) Anugerah Puisi Putra (1983) dari Malaysia, (3) Mataram Award (1985) dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, (4) SEA Write Award (1986) dari Thailand, (5) Anugerah Seni (1990) dari Pemerintah R.I., (6) Kalyana Kretya (1996) dari Menristek R.I., (7) Habbie Center (2001), dan (8) Penghargaan Achmad Bakrie (2003). Selain itu, Sapardi juga menjadi konsultan tetap Pusat Bahasa dan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera).

SUMBER

0 komentar:

Poskan Komentar